Ehm…Minum ‘Subsidi’ Ya

Harusnya sih benar,mereka yg beli mobil mahal harusnya beli bensin non subsidi. Jangan ikut2an beli premium yg disubsidilah.

Tapi apalah daya,mampu beli mobil ratusan juta,pajak tahunannya jutaan, kubikasi mesin gede tapi beri ‘minum’ pake bensin ‘miskin’. Mungkin dompet isinya pas2an juga ya Pantas saja pemerintah bilang premium itu digunakan oleh mereka yg kaya.

Tapi beli bensin itu kan salah satu hak individu, mau yg subsidi kek,yg non subsidi kek, kan mobil datangnya dari duit2 mereka sendiri. Emang pikirin anjuran pemerintah :mrgreen: Dikirim menggunakan telepon selular Sony Ericsson

Premium Sajaaaa…..

 

Isilah sesuai isi dompet, Nah lo....???

Pas mengisi bensin kemarin, saat sudah selesai saya sedang melihat sebuah mobil sedan sedang menunggu antrian di SPBU. Nah, yang menarik saya adalah ini adalah sebuah sedan termasuk yang lumayan lah, saya lupa merknya apa dan yang bikin saya heran ini mobil memakai plat mobil yang belakangnya tertulis hurup ” SP “, asal mas bro semua tahu dan yang sejauh saya ketahui. Plat berkode ” SP ” itu diprovinsi saya adalah buat mobil yang dipakai oleh para pejabat, jadi kalau mereka tidak sedang dalam perjalanan dinas pakai plat hitam berkodekan itu, sedang kalau dalam perjalanan dinas pastinya pakai yang warna merah. Baca lebih lanjut

Campur-campur BBM di HSX PGM-FI

Punya saya bukan yang diatas, tidak sempat memfoto jadi itu saja gantinya

Yaaa….ini merupakan pengalaman harian saya dimotor pribadi. Untuk membelikan “minuman” buat si susi saya biasanya sih beli di SPBU saja, jujur aja dulu rutin beli di SPBU, tapi karena sekarang diSPBU selalau antri karena pembatasan premium jadinya malas ikut antri. Memang kadang saya juga mengisi pertamax full buat susi, tapi hanya kalau isi dompet lagi lebih hehehe…..Apalagi sekarang harga pertamax dikota saya sudah Rp 7.750/liter, jadi ya ambil tengahnya saja…. Baca lebih lanjut

Motor Premium Kok Begitu…

Mari kita sedikit berbagi, ada dua buah produk motor buatan ATPM kita yang dikategorikan sebagai produk premium. Yang satu adalah Yamaha Lexam dan satunya lagi Honda Tiger, beda segmen tapi sama-sama katanya premium. Nah, kita tahu kedua produk ini secara harga termasuk mahal jika dibandingkan dengan fitur dan performancenya tetapi menawarkan design yang bikin mata segarlah.

Memang tidak salah kalau ingin sebuah motor dianggap premium, designnya juga harus lebih macho atau lebih cantik dengan saingan sekelasnya, misalnya Tiger lebih kekar daripada sainggannya, Lexam juga lebih cantik daripada musuhnya. Sang pemilik juga akan merasakan prestise dengan yang motornya. Namun yang saya sayangkan, entah apa yang dipikirkan produsen memasang produk yang tinggi namun tidak sesuai dengan fitur dan performance apalagi jika dibandingkan dengan kompetitornya yang terdekat, memang tidak semua orang suka akan hal yang berlebihan.

Namun jika ada barang lain yang lebih secara harga berbanding lurus dengan yang didapatkan, artinya lebih baik dari pada hanya menjunjung fanatisme akan sebuah merk yang dikelaskan sebagai barang mahal yang menonjolkan ego dan aktualisasi diri. Konsumen kita memang pertama lebih mementingkan design, tapi yang saya hendaki adalah ketika produk dinyatakan sebagai barang premium, mereka (produsen) sebaiknya memberikan sesuatu yang lebih bagus dengan harga yang ditebus konsumen.

Pikirkan fitur-fitur yang lebih menguntungkan bagi konsumen, jangan asal bilang produk premium dan harganya naik terus tiap tahun tanpa ada peningkatan berarti. Jangan mentang-mentang punya konsumen setia pada brand tersebut sehingga produsen seenaknya hanya menawarkan value yang tidak sesuai dengan harga.

So…..jangan hanya bicara tentang ikatan secara emosional, tapi logika juga dimainkan….walau kadang ada yang tidak bisa dipecahkan dengan logika.

note : Statement